Beranda | Artikel
Menanamkan Keberanian Pada Anak
12 jam lalu

Menanamkan Keberanian Pada Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 23 Jumadil Awal 1448 H / 3 November 2026 M.

Kajian Tentang Menanamkan Keberanian Pada Anak

Keberanian yang dimaksud adalah keberanian positif, bukan kenekatan yang menjurus pada hal negatif. Lawan dari sifat ini, yaitu rasa penakut, harus dihilangkan dari diri anak.

Poin berikutnya yang keenam adalah memupuk rasa percaya diri pada anak melalui kata-kata atau kalimat yang menginspirasi serta memberikan kepercayaan diri. Orang tua perlu mengikutsertakan anak dalam berbagai aktivitas sosial, seperti perlombaan atau kompetisi membangun yang membuat mereka terbiasa berinteraksi dengan lingkungan dan belajar beradaptasi.

Orang tua harus memberikan kata-kata yang sugestif dan inspiratif agar anak memiliki kepercayaan diri yang kuat. Anak tidak boleh terus-menerus dikurung di dalam rumah akibat kekhawatiran dan ketakutan berlebihan dari orang tua yang tidak membiarkan mereka berbaur dengan sesama. Sejak kecil, anak harus diajarkan beradaptasi dengan lingkungan, memahami manusia dengan beragam perbedaannya, serta belajar bersabar.

Hal tersebut sejalan dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Seorang mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka adalah lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak (pula) bersabar atas gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kemampuan bersabar dalam menghadapi manusia tentu mustahil dicapai jika seseorang kurang berinteraksi dan mengenali lingkungan sekitarnya. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak. Kendati demikian, orang tua tidak boleh lepas tangan. Pengawalan dan pengawasan terhadap pergaulan lingkungan anak tetap harus dilakukan secara bijak.

Situasi ini ibarat buah simalakama. Memendam anak di dalam rumah memberikan dampak buruk, tetapi membebaskan pergaulan mereka tanpa batas juga berbahaya. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif orang tua dalam dua hal utama:

  1. Bertanggung jawab memilihkan lingkungan dan pergaulan yang baik bagi anak-anak.
  2. Terus mengawasi dan memperhatikan perkembangan anak meskipun lingkungan yang baik telah dipilihkan.

Pengaruh lingkungan sangatlah besar, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِل

“Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Membangun rasa percaya diri memerlukan waktu dan proses yang tidak instan. Sebagai teladan, Umar bin Khattab pernah menegur putranya, Abdullah bin Umar, ketika tidak menjawab pertanyaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai perumpamaan seorang mukmin dengan pohon kurma, padahal Abdullah bin Umar mengetahui jawabannya. Umar menegur dan berkata, “Seandainya kamu menjawabnya, maka itu lebih aku sukai daripada ini dan itu.” Sikap ini menunjukkan bagaimana Umar mendorong anaknya untuk memiliki rasa percaya diri dan tidak minder.

Mendorong Anak Untuk Berani Berargumentasi

Poin ketujuh adalah mendorong anak untuk berani mengemukakan pendapat, berargumentasi, serta mempertahankan prinsip yang diyakini. Dalam kehidupan, terdapat dua kemungkinan posisi, yaitu mendakwahi atau didakwahi. Anak perlu ditanamkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menjadi pihak yang mendakwahi, bukan sekadar objek dakwah yang hanya bisa dipengaruhi.

Dakwah di sini dipahami dalam arti luas, yaitu kemampuan untuk memberikan pengaruh positif kepada lingkungan sekitar, bukan sekadar menjadi pihak yang mudah dipengaruhi.

Maka dorong agar anak berani mengemukakan pendapat dan berargumentasi. Namun, tidak jarang nyali anak dibuat ciut karena argumentasinya langsung dipatahkan atau direndahkan oleh pendidik dan orang tua. Ketiadaan ruang serta kesempatan untuk berargumentasi akan membuat jiwa anak menjadi kerdil dan takut menyampaikan gagasan.

Pendapat yang disampaikan anak terkadang terdengar konyol dalam pandangan orang dewasa. Kendati demikian, gagasan tersebut tidak boleh langsung dipatahkan agar keberanian anak tidak padam. Pendidik dan orang tua harus sabar menjadi pendengar yang baik saat anak berargumentasi. Penggunaan kalimat pembungkam bahwa anak telah berani melawan orang tua dan sejenisnya harus dihindari. Kadang kala argumentasi anak memiliki kebenaran, tetapi sikap tidak siap mendengarkan dari orang tua membuat tanggapan negatif keluar secara tergesa-gesa.

Pelajaran berharga mengenai kesabaran dalam menghadapi argumentasi anak dapat dipetik dari kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam ketika berdialog dengan putranya di tengah banjir bandang. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengajak putranya naik ke perahu:

يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا

“Wahai anakku, naiklah bersama kami!” (QS. Hud[11]: 42)

Putranya menyampaikan argumentasi menolak ajakan tersebut:

سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ

“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” (QS. Hud[11]: 43)

Meskipun telah mendakwahi dan mendidik putranya selama ratusan tahun, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam tidak marah, tidak meluapkan emosi, ataupun merendahkan argumentasi anaknya. Beliau menanggapi argumentasi tersebut dengan penuh kesantunan dan kesabaran:

لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ

“Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah Yang Maha Penyayang.” (QS. Hud[11]: 43)

Meskipun pada akhirnya hidayah merupakan hak prerogatif Allah ‘Azza wa Jalla dan anak tersebut termasuk kelompok yang tenggelam (minal mughraqiin), terdapat pelajaran penting mengenai kesabaran orang tua dalam menanggapi argumentasi anak.

Para pendidik dan orang tua dituntut melatih diri agar menjadi pendengar yang baik. Salah satu kelemahan yang sering terjadi adalah keinginan untuk terus berbicara tanpa mau didengar, tidak mau dipatahkan pendapatnya, serta menutup ruang dialog. Sikap demikian akan menghasilkan anak berjiwa kerdil dan bermental lemah.

Kemampuan berargumentasi sangat penting bagi anak untuk menghadapi tantangan kehidupan di luar sana. Dalam realitas kehidupan, seseorang berada pada salah satu dari dua posisi: mendakwahi atau didakwahi. Oleh karena itu, mental anak perlu ditempa agar berada pada posisi pihak yang mendakwahi dan memberikan pengaruh positif, bukan sekadar menjadi pihak yang didakwahi.

Bagaimana kajian lengkapnya? Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Menanamkan Keberanian Pada Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56686-menanamkan-keberanian-pada-anak/